Hubungan tingkat kontrol dengan arus puncak ekspirasi pada pasien asma

  • Nur Anniesa Indayani Imran Universitas Trisakti
  • Rita Khairani Universitas Trisakti
  • Febrina Susanti RSUD Budhi Asih

Abstract

LATAR BELAKANG
Asma adalah penyakit heterogen, yang ditandai dengan peradangan jalan napas kronik dan masih menjadi masalah kesehatan di semua negara. Menurut data Riskesdas 2013 prevalensi asma di Indonesia mencapai 4,5%. Pada pasien asma, obat pelega jangka pendek dan pengontrol jangka panjang digunakan untuk mempertahankan asma dalam keadaan terkontrol. Tingkat kontrol asma dapat dinilai secara subjektif dengan menggunakan kuisioner tingkat kontrol spesifik dan secara obyektif dengan pengukuran fungsi paru salah satunya arus puncak ekspirasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kontrol asma dengan arus puncak ekspirasi pada pasien asma.

METODE
Penelitian ini menggunakan desain potong lintang. Sampel berjumlah 57 orang menggunakan consecutive non random sampling. Pengambilan data dilakukan pada bulan November–Desember 2017. Data untuk menilai tingkat kontrol diperoleh dengan kuesioner ACT dan data fungsi paru menggunakan peak flow meter untuk mengukur arus puncak ekspirasi. Analisis statistik menggunakan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan p<0.05.

HASIL
Sebanyak 82.5% pasien dengan asma tidak terkontrol dan 86% dengan arus puncak ekspirasi berada di zone merah. Tidak terdapat hubungan bermakna tingkat kontrol asma dengan arus puncak ekspirasi pada pasien asma (p=0.137).

KESIMPULAN
Tidak terdapat hubungan bermakna tingkat kontrol asma dengan arus puncak ekspirasi pada pasien asma.

Published
2018-09-30
How to Cite
1.
Imran N, Khairani R, Susanti F. Hubungan tingkat kontrol dengan arus puncak ekspirasi pada pasien asma. J Biomedika Kesehat [Internet]. 30Sep.2018 [cited 21Nov.2018];1(2):152-7. Available from: https://jbiomedkes.org/index.php/jbk/article/view/43
Section
Original Article