Hubungan saturasi oksigen dengan risiko terjadinya obstructive sleep apnea pada pria usia 30 - 60 tahun

  • Dhia Maulidya Mirwan Universitas Trisakti
  • Eveline Margo Universitas Trisakti

Abstract

LATAR BELAKANG

Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan kondisi umum pada saat tidur ditandai dengan mendengkur. Di Indonesia, data prevalensi OSA masih sangat sedikit, namun pada penelitian di Jakarta tahun 2013 didapatkan 70% pada laki-laki dengan rentang usia 35 - 73 tahun menderita OSA. Kejadian OSA dapat mengganggu sistem pernapasan serta fungsi kognitif seseorang. Hal ini ditandai dengan hipoksia yang dapat menimbulkan fase arousal pada risiko OSA. Namun, pada beberapa penelitian ditemukan tidak terdapatnya hubungan kadar saturasi oksigen pada penderita OSA.

 

METODE

Penelitian ini menggunakan studi observasional analitik dengan desain studi potong lintang (cross-sectional) yang dilakukan pada bulan April hingga Juni 2019. Penentuan sampel menggunakan teknik random sampling, pada 64 orang pria usia 30 - 60 tahun. Data dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner Berlin untuk mengetahui ada tidaknya OSA dan dilakukan pengukuran saturasi oksigen menggunakan pulse oximetry. Analisis hipotesis dilakukan dengan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan yang digunakan p < 0.05.

 

HASIL

Didapatkan responden 64 orang dengan 42 orang (65.6%) dengan risiko tinggi OSA, dan 22 orang (34.4%) lainnya memiliki risiko rendah OSA, sedangkan pada uji Chi-square untuk melihat hubungan kadar saturasi oksigen dengan resiko terjadinya OSA didapatkan p=1.000.

 

KESIMPULAN

Penelitian ini menunjukan tidak ada hubungan bermakna antara kadar saturasi oksigen dengan risiko terjadinya OSA.

Published
2020-06-30
How to Cite
1.
Mirwan D, Margo E. Hubungan saturasi oksigen dengan risiko terjadinya obstructive sleep apnea pada pria usia 30 - 60 tahun. J Biomedika Kesehat [Internet]. 30Jun.2020 [cited 4Jul.2020];3(2). Available from: https://jbiomedkes.org/index.php/jbk/article/view/127
Section
Original Article